Carian Di Blog Ini

Selasa, 22 November 2011

Siapakah Wali-Wali Allah?

Siapakah Wali-Wali Allah? WALI ALLAH, Siapakah mereka ?          
D. Mulyadi - Muhammad Ibnu Anwar


"Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhuatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang- orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa." (QS. Yunus : 62-63).

Ayat di atas mengandung pengertian bahwa wali Allah (waliyullah) ialah orang yang beriman dan bertakwa.(lihat Tafsir Ibnu Katsir juz 2 hal 422). (Wali-wali Allah) ialah orang yang beriman kepada hal yang gaib, mendirikan solat, menafkahkan sebagian rezeki yang telah Allah anugerahkan kepadanya. Mereka juga beriman kepada yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW (Al-Qur'an) dan yang diturunkan kepada nabi- nabi sebelum Nabi Muhammad SAW, serta mereka meyakini adanya hari akhir. Mereka (wali-wali Allah) itu adalah golongan yang mengikuti Nabi Muhammad SAW (lihat Tafsir Tanwiirul Miqbas, hal 4).

Terhadap mereka (wali-wali Allah) terkadang tampak karamah ketika sedang dibutuhkan. Seperti karamah Maryam ketika ia mendapatkan rezeki berupa makanan di rumahnya (QS.3 : 35) (lihat Firqah an Naajiyah Bab 31).

Maka wilayah (kewalian) memang ada. Tetapi ia tidak terjadi kecuali pada hamba yang mukmin, taat dan mengesakan Allah. Adapun karamah tidak menjadi syarat untuk seseorang disebut sebagai wali Allah, sebab syarat demikian tidak diberitakan dalam Al Qur'an.

Tingkat kewalian yang terdapat dalam diri seseorang mukin sesuai dengan tingkat keimanannya. Para wali Allah yang paling tinggi tingkat kewaliannya adalah para nabi, dan diantara para nabi yang paling tinggi tingkat kewaliannya adalah para rasul, dan diantara para rasul yang paling tinggi tingkat kewaliaanya adalah rasul ulul azmi, dan diantara rasul ulul azmi yang paling tinggi tingkat kewaliannya adalah Rasulullah Muhammad SAW. Maka barangsiapa yang mengaku mencintai Allah dan dekat dengan-Nya (mengaku sebagai wali Allah), tetapi ia tidak mengikuti sunah Rasulullah Muhammad SAW, maka sebenarnya ia bukanlah wali Allah tetapi musuh Allah dan wali setan (lihat Al Furqan, hal 6) .

Apa yang tampak pada sebagian ahli bid'ah seperti memukul-mukulkan besi ke perut, memakan api dan sebagainya dengan tidak menimbulakn cedera apapun, maka itu adalah dari perbuatan setan. Hal yang demikian bukanlah karamah tetapi istidraaj agar mereka semakin jauh tenggelam dalam kesesatan (lihat Firqah an Najitaah Bab 31).

Mengenai hal tersebut, Asy Syeikh Hasyim Al Asy'ari r.a. (tokoh pendiri Nahdlatul Ulama, NU) berkata : "Barangsiapa yang mengaku sebagai wali Allah tanpa mengikuti sunah, maka pengakuannya adalah kebohongan." (Ad Durar Al Muntasirah, hal 4)

Apa yang dikatakan oleh Asy Syeikh Hasyim Al Asy'ari di atas diperkuat dengan perkataan Imam Asy Syafi'I r.a. : "Jika kalian melihat seseorang yang mampu berjalan di atas air dan terbang di angkasa, maka janganlah kalian tertipu olehnya, sehingga kalian serahkan urusannya kepada Al Qur'an (dan As Sunah)*."(lihat Syarah Al Aqidah Ath Thahawiyah hal 573) *Maksudnya jika tingkah laku sehari- hari orang tersebut sesuai dengan dengan Al Qur'an dan As Sunah, maka ia adalah seorang wali Allah, tetapi jika tidak sesuai, maka ia adalah seorang wali setan. pen.

Menurut persepsi kebanyak orang, wali adalah orang yang mengetahui ilmu gaib. Padahal ilmu gaib sesuatu yang hanya Allah sendiri yang mengetahuinya. Memang terkadang hal itu ditampakan pada sebagian Rasul-Nya, jika Dia menghendakinya (QS Al Jin : 26-27).

Sebahagian orang lagi menyangka bahwa setiap kuburan yang dibangun di atasnya kubah adalah wali. Padahal bisa jadi kuburan tersebut di dalamnya adalah orang fasik, atau bahkan mungkin tad ada manusia yang dikubur di dalamnya.

Seorang wali bukanlah yang dikuburkan di dalam masjid atau yang dibangun di atasnya suatu bangunan atau kubah. Hal itu justru melanggar syari'at Islam, bahkan Rasulullah SAW melarang mengkapur kuburan atau dibangun sesuatu di atasnya (HR. Muslim) (lihat Firqah an Naajiyah Bab 31)

Kesimpulan :
Semua orang yang beriman adalah wali Allah, dan di dalam diri setiap orang yang beriman terdapat tingkat kewalian sesuai dengan tingkat keimanannya. (lihat Mujmal Ushul Ahlissunnah wal Jamaah fi Al Aqidah, pasal 2).

Dari Abi Hurairah RA katanya, telah bersabda Rasulullah saw : Sesungguhnya Allah swt telah berfirman:

"Barangsiapa yang menyakiti wali-Ku , maka Aku isytiharkan perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekati-Ku dengan suatu pekerjaan yang lebih Aku sukai daripada dia mengerjakan apa yang Aku telah fardhukan keatasnya. Dan sentiasalah hamba-Ku mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan melakukan yang sunat sehingga Aku cinta kepadanya. Maka apabila Aku telah mencintainya, adalah Aku-lah yang menjadi pendengarannya yang ia mendengar dengannya, dan penglihatannya yang ia melihat dengannya, dan tangannya yang ia tamparkan dengannya, dan kakinya yang ia berjalan dengannya; Dan sesungguhnya, jika ia meminta kepada-Ku, nescaya Aku berikan kepadanya; Dan sesunggunya, jika ia memohon perlindungan kepada-Ku nescaya Aku berikan perlindungan kepadanya." (Riwayat Imam Bukhari)

Huraiannya:

Barangsiapa yang menyakiti Wali-Ku, maka sesungguhnya Aku mengisytiharkan perang kepadanya.

Wali menurut bahasa ertinya qarib yakni dekat. Jadi Wali Allah (kekasih Allah) ialah orang yang sentiasa bertaqarrub (mendekatkan dirinya) dengan Allah. Dan atas sebab maka itulah Imam An Nawawy mengertikan Wali Allah disini ialah orang yang beriman (mukmin). Jadi mukmin yang tekun beribadat lagi tabah dalam mentaati Allah, melaksanakan suruhan-Nya dan menjauhkan dirinya daripada maksiat serta tidak terlalu mementingkan kesedapan duniawi, inilah yang disebut dengan Wali Allah. Wali Allah ada pada setiap masa dan zaman tetapi mereka susah dikenal pasti.

Golongan inilah yang cuba dijelaskan oleh Rasulullah kepada Saidina Omar Ibnu Al Khattab RA dalam dialog mereka:

Rasul: Para Nabi dan para syuhada akan cemburu kepada segolongan hamba Allah kelak diakhirat kerana kedudukan mereka yang tinggi di sisi Allah padahal mereka bukan para Nabi.

Omar: Siapakah mereka wahai Rasul?

Rasul: Mereka ialah satu kaum yang saling mengasihi sesama mereka semata-mata kerana Allah, bukan kerana hubungan silaturrahim atau kerana harta. Demi Allah, sesungguhnya wajah mereka bercahaya, mereka memiliki beberapa mimbar yang bercahaya. Mereka tidak takut dikala manusia lain merasa takut, dan mereka tidak sedih dikala manusia lain merasa sedih. Lalu Rasulpun membaca ayat 62-63 dari surah Yunus:

Maksudnya: Ingatlah, sesungguhnya Wali Wali Allah itu tidak ada kekhuatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Iaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa. (Yunus: 62-63)

Berdasarkan ayat dan hadis diatas dapatlah disimpulkan:

Syarat utama untuk menjadi Wali Allah: Iman dan Taqwa.

Wali Allah sangat tinggi darjatnya disisi Allah. Atas sebab inilah jika sesiapa yang memusuhi Wali Wali Allah iaitu mukmin yang bertaqwa maka itu bererti ia memusuhi Allah dan Allah maklumkan perang kepada orang tersebut. Setelah Allah swt menjelaskan amaran-Nya terhadap orang yang memusuhi dan membenci Wali-Nya, lalu selanjutnya Allah menyebut pula beberapa sifat yang dimiliki oleh Wali-Nya yang kerana sifat-sifat itulah menjadikan mereka hampir dengan-Nya.

Tidaklah hamba-Ku mendekati-Ku dengan sesuatu pekerjaan yang lebih Aku sukai daripada ia melakukan apa yang telah difardhukan keatasnya.

Amalan fardhu: Segala amalan yang wajib dilaksanakan oleh hamba. Amalan wajib adalah asas, sedangkan amalan sunat pula adalah binaan. Kekukuhan binaan sangat tergantung kepada kemantapan asas. Setiap mukmin dikehendaki supaya menyediakan asas sebelum mendirikan binaan. Dengan kata lain mukmin mestilah mengutamakan amalan wajib sebelum ia melakukan amalan sunat. Atas dasar itulah maka amalan wajib adalah amalan yang paling disukai dan dicintai oleh Allah swt.

Dan sentiasalah hamba-Ku mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan melakukan amalan sunat sehingga Aku cinta kepadanya.

Amalan Sunat (An Nawaafil): Selain amalan yang difardhukan. Dan dengan amalan tersebut menjadikan seseorang lebih dicintai dan dikasihi oleh Allah swt. Adapun amalan sunat yang paling istimewa dan disukai oleh Allah ialah tilawah Al Quran, mendengarnya, memahami atau menghayati (tadabbur) maknanya. Ini disebabkan biasanya tidak ada yang paling manis bagi orang yang sedang bercinta melainkan ingat dan mengulang ulangi kata-kata orang yang dicintainya. Dan juga memperbanyakkan amalan sunat lain seperti solat, puasa, sedekah, zikir dan sebagainya. Apabila amalan-amalan itu telah dilazimkan secara terus-menerus akan bersebatilah dirinya dengan amalan tersebut, sehingga seolah-olah dipandang wajib, yakni ia akan merasa kurang senang apabila tertinggal salah satu daripadanya, padahal amalan itu tiada lain melainkan sunat belaka.

Rasulullah SAW. bersabda: Tidak ada yang dapat mengimbangi dalam mendekatkaan dirimu kepada Allah daripada apa yang keluar daripada-Nya (yakni Al Quran). (HR Tarmidzi dari Abi Umamah)

Othman Ibnu Afan berkata: Sekiranya hatimu benar-benar bersih nescaya kamu tidak akan merasa kenyang daripada Kalam Tuhanmu.

Jadi berdasarkan keterangan diatas jelaslah bahawa Wali Allah itu terbagi kepada dua darjat:

Mukmin yang mendekatkan dirinya kepada Allah SWT hanya dengan melakukan amalan fardhu saja dan menjauhkan diri dari perkara haram. Mereka inilah golongan Muqtasidun atau Ashaabul Yamin atau Al Abraar. Dan amal badan yang fardhu yang paling istimewa adalah solat kerana ketika itu Allah sangat hampir dengannya terutama ketika ia sedang sujud. Allah berfirman: Wasjud Waqtarib ( Al ‘Alaq : 19 )

Mukmin yang mendekatkan dirinya kepada Allah bukan hanya sekadar melakukan amalan fardhu tetapi juga memperbanyak amalan nawaafil yakni amalan sunat dan selain mereka meninggalkan perkara haram, mereka juga menjauhi perkara makruh. Mereka inilah yang dinamakan dengan golongan Assaabiquun Bil Khairaat atau Assabiquun Al Muqarrabuun.

Dan tentu saja dalam hal ini golongan yang kedua adalah lebih disukai dan darjatnya lebih tinggi disisi Allah SWT.

Maka apabila Aku telah mencintainya, adalah Aku yang menjadi pendengarannya yang ia mendengar dengannya, dan penglihatannya yang ia melihat dengannya, dan tangannya yang ia menampar dengannya, dan kakinya yang ia berjalan dengannya.

Al Fudhail Ibnu 'Iyadh berkata: Sesungguhnya Allah telah berfirman:

Adalah dusta orang yang mendakwa cinta kepada-Ku tetapi dia tidur daripada-Ku, bukankah setiap orang yang sedang dilamun cinta sangat suka kalau sentiasa berkhalwat (bersunyi-sunyi) dengan kekasihnya? "Inilah Aku yang sentiasa memerhatikan kekasih-kekasih-Ku, sungguh mereka telah jelmakan Aku dalam pandangan mereka, berdialog dengan-Ku seolah-olah mereka menyaksikan Aku, bercakap dengan-Ku seolah-olah Aku hadir dihadapan mereka. Esok akan Aku senangkan hati kamu di dalam syurga-syurga-Ku. Perasaan ini sentiasa tersemat kukuh dihati mereka sehingga tidak ada didalam hati mereka kecuali Aku. Oleh itu tidak ada yang muncul dari anggota mereka melainkan selaras dan sesuai dengan apa yang ada di dalam hati mereka.

Jadi orang yang beginilah yang berhak mendapat kasih sayang Allah. Allah akan balas amalan mereka yang ikhlas itu dengan melimpahkan keberkatan-Nya, memimpinnya ke jalan yang selamat dan sejahtera. Maka ketika itulah Allah akan menjadi pendengarannya ketika dia mendengar, menjadi penglihatannya ketika dia melihat, menjadi tangannya ketika dia menampar, menjadi kakinya ketika dia berjalan.

Allah sentiasa memelihara pendengarannya, penglihatannya kakinya dan tangannya daripada gangguan Iblis. Allah selalu didalam hatinya ketika dia mendengar, melihat, menampar, berjalan. Dan kalau hatinya selalu ingat kepada Allah sudah tentu ia tidak akan menyeleweng. Bererti orang yang sedang dicintai Allah Ta'ala itu sentiasa berada dalam naungan Tuhan, sehingga segala gerak-gerinya diarahkan kepada segala perbuatan yang diridhainya semata. Sebab Allah s.w.t tidak ingin kita melakukan yang mungkar, padahal hawa nafsu kita pula sangat cenderung kepada yang mungkar itu. Hanya orang yang dirahmati Tuhan sajalah yang akan terselamat dari angkara hawa nafsu, dan mereka itulah orang-orang yang berada di dalam perlindungan Tuhan dan naunganNya. Tidak ramai manusia yang bakal sampai ke tingkat yang tertinggi ini, namun tidak mustahil, dia akan mencapai tingkat tersebut apabila hatinya telah sebati dengan semua taqarrub dan amalan yang selalu dikerjakan itu. Sebab di situlah tempat yang dapat dirasakan ketenangan hatinya yang hakiki, yakni bila berhadapan dengan Allah Ta'ala, dan dirasakan nikmat kemanisan munajat kepadaNya. Hal-hal serupa ini adalah hal-hal maknawi dan terlalu halus, yang tiada dapat diungkapkan dan disifatkan oleh sang hamba itu sendiri. Apa yang dirasakan itu tidak perlu diberitakan kepada yang lain, kerana itu adalah sesuatu hakikat kekurniaan yang dikhususkan Tuhan baginya sebagai rahsia yang tidak boleh didedahkan kepada umum, kerana dikhuatiri nanti dimakan riya' serta dijerumuskan syaitan ke jurang ujub dan medan megah diri yang akan membinasakan itu. Maka kekallah sang hamba itu dengan rahsia Tuhannya yang diilhamkan di hatinya dan seluruh jiwanya.

Dan sesungguhnya, jika ia meminta kepada-Ku nescaya Aku berikan kepadanya; Dan sesungguhnya, jika ia memohon perlindungan kepada-Ku nescaya akan Aku berikan perlindungan kepadanya.

Bahagian ini pula menyatakan bahawa doa dan permohonan para Wali Allah akan segera dikabulkan. Ini adalah kesan dari sikap mereka yang sentiasa mendekatkan diri kepada Allah, apakah melalui amalan wajib ataupun amalan sunat.

Mudah-mudahan kita juga diberikan dorongan dan kekuatan hati untuk menuju ke sana pada suatu hari nanti, tetapi hendaklah kita melazimkan diri untuk berbuat taqarrub (mendekatkan diri kepada Allah) dan nawafil dengan hati sungguh-sungguh dan ikhlas yamg murni. Dan juga sering bermujahadah (melawan hawa nafsu). Amin.